Sugarless

Little fume of my coffee started to vanish that it smelled less stronger now. Or, maybe it’s just I got used to the smell. As it reminded me that I’d been sitting in the corner of the coffee shop for too long. And I hadn’t drunk even a sip of my coffee, that had gotten far from hot now.

“Always drink your coffee while it’s hot.” That was what Anne always told me. Funny, that I, as a man, was always to be the one who was less masculine compared to her. From ocean diving, to the love of coffee. She was the one introduced me to a habit of drinking coffee sugarless. She said, we should not drink coffee with sugar. Even though sugar gave a sweet taste to it, still, coffee was never meant to be consumed with sugar. When you love coffee, you would mind how other different particles might ruin its taste. That was her philosophy about coffee. But I still couldn’t drink it a hundred percent sugarless. And, I would always be a joke to her for this. Her mocking at me on this usually always ended up with me getting pissed off. But it felt differently now. It made me smile by only thinking of it.

I was not my self recently. I had been avoiding people. Friends, family, whoever it was. It was like the need of my personal space just elevated. Been couple months. I didn’t feel like talking much and had been preferring hearing myself more than others.

I was surprised myself that I enjoyed all these. Going out, buying my own self some coffee, and just sitting there like the loneliest person on earth, only to finaly leave and ignore the miserable coffee I did not bother to touch.

I was sure that to be by myself was all I needed. I didn’t know why, but it was just, I felt the way people were acting to me recently was so overwhelming. I couldn’t stand their every are-you-alright or their other way of expressing sympathy. And I was sorry that they thought I needed all that.

black-and-white-coffee-cup-loneliness-favim-com-2149799

It was not exactly what they thought and sought. I really wish they would stop asking. Cause I didn’t even know whether I was sad, or mad. What I felt inside was so unfamiliar. Things were just so strange that most of the time I felt the world had stopped moving and I could barely hear things other than my own self. And this heavy feeling on my chest, was the thing that I had never been able to get rid of.

I could only hope that one day, I would wake up in the morning feeling life has been normal again. That I would not mind any more sympathy or simply a pity. That people’s condolence and I’m-sorry-about-Anne thing would just feel like any other normal words. And that this feeling of missing her would cause no more pain on me. That my coffee would taste fine sugarless. One day…

 

Cerpen: Alang-Alang

Image by Google

Phalaris Arundinacea (Reed Canarygrass) atau dalam Bahasa Indonesia Alang-alang

Sebuah cerpen oleh Dila Putri

Bagian Satu

Namanya Titis. Lengkapnya Titis Angprama Digugu. Saya suka namanya. Walau sebenarnya saya hanya menerka-nerka makna dibalik namanya. Yang saya tahu, Titis berarti “keturunan”. Angprama (jika saya tidak salah menerka) berasal dari dua kata: Ang dan Prama, yang masing-masing bermakna “utusan” dan “unggul” atau “suci”. Sedangkan Digugu diambil dari bahasa Jawa-Sunda yang artinya “diikuti” atau “dituruti”. Jika disatukan, maknanya kurang lebih adalah “keturunan utusan suci yang diikuti atau menjadi panutan”. Saya yakin pasti ada makna yang jauh lebih mendalam di balik arti namanya melebihi makna per kata yang saya ketahui itu. Yang jelas, saya selalu menyukai mengejanya dengan lengkap.

Titis Angprama Digugu. Ia seorang seniman. Lebih tepatnya, seorang vokalis dari sebuah grup musik di dataran Jawa ini. Entah, apakah seorang vokalis dapat saya katakan sebagai seorang seniman. Saya sendiri tidak begitu mafhum tentang standard tertentu yang dapat menjadikan seseorang sah boleh disebut sebagai seorang seniman. Yang saya pahami, Titis ini adalah sosok yang nyeni. Ia mahir bermain gitar, terutama gitar akustik. Ia menulis puisi-puisi dengan diksi-diksi dewa. Sebagian besar puisinya digubah menjadi lagu-lagu yang dibawakan band folknya dan diiringi petikan-petikan gitar yang mampu membawa siapa saja yang mendengarkannya melayang.

Jika kamu mulai mengira kalau saya mengenalnya dengan baik, kamu salah. Baiklah, sebenarnya tidak begitu salah. Saya memang mengenalnya. Tapi, cara saya mengenalnya adalah seperti air hujan yang turun dari langit. Hanya datang satu arah. Saya mengenalnya cukup baik, namun… tidak sebaliknya. Sejauh ini, takdir hanya mampu menempatkan dirinya dan saya dalam hirarki seorang idola dan pengagumnya. Ia menulis puisi, saya membacanya. Ia membuat musik, saya mendengarkannya. Dan, setiap karya yang ia buat selalu membuat saya termenung dan tertegun meskipun sebenarnya puisi bukan lah hal asing bagi saya yang memang tukang pembuat puisi.

Halaman 1 dari 6

Perihal Rasa

Lewat tengah malam. Sudah tegukan kelima sejak dua puluh menit yang lalu saat lelaki itu tiba di dapur dan memilih untuk hanya duduk terdiam di kursi meja makan. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya pucat. Matanya berkantong dan dihiasi lingkaran gelap di sekelilingnya.  Ia mematung dan membaur bersama sunyi. Ruangan itu ia biarkan suram tanpa cahaya. Hening. Hanya dirinya, gelas setengah penuh, telepon selular dan suara detak jam dinding yang terlalu angkuh untuk menurunkan volume suaranya. Matanya terus menatap telepon selularnya yang sejak tadi membisu. Jakunnya naik turun seolah tak berhenti menelan. Sekarang, tegukan keenam. Air itu menyebar membasahi tiap milimeter saluran rengkungnya. Ia tidak sedang kehausan. Ia hanya sedang ingin melakukan sesuatu di antara diamnya.

Ia berharap saat ini ia sedang tertidur lelap, atau… sekadar menata mimpi dalam senyap. Sejak pukul sepuluh ia sudah berusaha untuk tertidur. Namun sesuatu dalam dirinya memintanya untuk tetap terjaga. Hatinya penuh kemelut. Pikirannya semrawut. Sudah hari kelima rentetan ketidakjelasan itu terulang tiap malamnya. Membuatnya mulai merasa tidak menyukai malam.

Dadanya terasa padat. Jantungnya mendebat. Ia hela nafasnya dalam-dalam. Mencoba mengosongkannya. Percuma. Semuanya masih saja sama. Masih terasa padat. Tegukan ketujuh. Telepon selular itu masih saja diam. Ia hela lagi nafasnya dalam-dalam.

Tangannya menyentuh telepon selular itu dan ragu-ragu mengangkatnya. Namun keraguan itu tampak sirna di detik berikutnya ketika dengan sadar ia membiarkan kedua ibu jarinya menari di atas layar sentuh selularnya. Ia menyerah. Ia membiarkan hatinya menuntunnya menuliskan sebait kalimat singkat itu. Sebait kalimat yang sejak beberapa hari lalu ia redam. Sebait yang membuatnya hanya mampu diam. Sebait kalimat yang menyusupi setiap lekuk nestapa dalam dirinya. Sebait kalimat seringkas: Saya rindu kamu. Sudah.

 

Sebait Epilog

wisteria-24443-25110-hd-wallpapers

 

Dua jenis krim malam untuk wajah. Krim mata. Dan krim pelembab untuk bibir. Itu setelah hampir setengah jam menghabiskan waktu di kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur. Bahkan sebelum tidur masih sempat menyisir rambut. Dan rutinitas pamungkas, tersenyum pada refleksi diri dalam cermin.

Ia, wanita yang selama dua tahun terakhir membuat hidupku terasa hampir sempurna. Wanita yang kutahu ialah orangnya sejak pertama kali kumelihatnya. Wanita yang kupinang. Rahayu, istriku.

Rutinitas itulah yang setiap malam ia lakukan yang tanpa kusadari menjadi pemandangan dan tontonan menarik setiap kali ia melakukannya. Selalu, aku naik ke tempat tidur terlebih dahulu, membaca buku, sementara dirinya menghabiskan waktu di kamar mandi yang pintunya berada hanya satu setengah meter dari posisi tempat tidur kami. Setelah hampir setengah jam, setelah sekitar sepertiga halaman buku kucerna, ia keluar dari kamar mandi dan langsung menuju meja rias yang berada tepat di depan tempat tidur kami dengan tubuhnya yang masih dibalut kimono merah muda kesayangannya. Ketika ia duduk, seketika itu juga biasanya aku mulai menutup buku lalu melepas kacamata dan meletakkannya di meja sisi tempat tidur. Ya, untuk beralih menyaksikan pemandangan indah yang pelan-pelan kusadari membuatku kecanduan.

Awalnya sempat aku bertanya padanya, “Mengapa mesti serepot itu?” Dan meyakinkan dirinya bahwa tanpa semua itu ia selalu terlihat indah di mataku dan aku mencintainya. Namun jawabannya selalu berhasil mematahkan argumenku. “You love me this way, right? And ‘this way’ is me,” Lontarnya selalu sambil melemparkan senyuman menggoda.

Hal 1 dari 4