Interview Kerja dan Hobi

Sekitar tiga atau empat tahun belakangan, saya melakukan jobdesc tambahan di kantor untuk terlibat dalam employee recruitment bersama divisi HR. Peran saya sesederhana mengecek kemampuan Bahasa Inggris para kandidat. Kebetulan perusahaan tempat saya bekerja ini memang sangat mengedepankan kemampuan berbahasa, terutama karena banyak klien kami  merupakan perusahaan-perusahaan asing.

Dalam sesi interview, saya lebih sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan di luar teknis. Karena saya pikir, saya gak perlu mengulang sesi yang sudah dilakukan User dan HR. Biasanya saya akan menanyakan sesuatu seputar aktifitas sehari-hari, keluarga, hobi dan minat si kandidat–walau sesekali tetap saya selipkan pertanyaan yang lebih serius hanya untuk meyakinkan seberapa jauh level kemampuan berbahasa Inggris para kandidat.

Dari entah berapa puluh atau ratus sesi interview yang saya lalui, ada satu hal yang menggelitik pikiran saya. Bahwa kebanyakan interviewee, yang 80%-nya adalah fresh graduates, selalu bingung, ragu atau asal jawab setiap  Continue reading

Cause Everyone Is A Reader

image

Neil Gaiman pernah menyatakan:

“Baca. Baca semuanya. Baca apa yang kata orang bagus, dan apa yang kata orang sampah. Kau akan menemukan apa yang kau cari. Intinya, baca.”

Apa yang disampaikan penulis asal Inggris tersebut kurang lebih senada dengan apa yang tersirat pada gambar di atas. Bahwa untuk menyukai membaca, kita cuma perlu memilih buku yang kita sukai. Gak harus buku klasik. Gak harus buku-buku yang memenangkan award bergengsi. Gak melulu harus buku-buku dengan pesan moral. Pokoknya, pilih mana pun yang mengundang rasa penasaran atau menarik perhatian kita, bahkan ketika orang menilai buku tersebut ‘sampah’. Wong ‘sampah-sampah’ juga kalau bisa bikin mulai mau baca, bagaimana dong? Bayangkan kalau orang yang awalnya gak suka baca, terus supaya suka baca langsung ‘dijejelin’ buku-buku ‘berat’ tadi. Trust me, they will even turn off with any kind of reading materials. Dan, menurut Neil Gaiman juga di salah satu tulisannya (I forgot where), hal tersebut juga berlaku untuk memperkenalkan budaya membaca kepada anak-anak.

Continue reading

Helen Keller: The Golden Silence

“I can see, and that is why I can be happy, in what you call the dark, but which to me is golden. I can see a God-made world, not a man-made world.” -Helen Keller

319-2-hellenkeller02Lahir dengan kondisi penglihatan dan pendengaran yang normal ternyata tidak membuktikan bahwa seseorang akan hidup dalam keadaan normal. Nama lengkapnya Helen Adams Keller. Lahir pada 27 Juni 1880 di Tuscumbia, Alabama, Amerika Serikat, dari sebuah keluarga sederhana pasangan Kapten Arthur Henley Keller dan Kate Adam Keller.

Siapa sangka bahwa Helen yang terlahir normal, hidupnya berubah setelah ia kehilangan pendengaran dan penglihatannya. Continue reading