Interview Kerja dan Hobi

Sekitar tiga atau empat tahun belakangan, saya melakukan jobdesc tambahan di kantor untuk terlibat dalam employee recruitment bersama divisi HR. Peran saya sesederhana mengecek kemampuan Bahasa Inggris para kandidat. Kebetulan perusahaan tempat saya bekerja ini memang sangat mengedepankan kemampuan berbahasa, terutama karena banyak klien kami  merupakan perusahaan-perusahaan asing.

Dalam sesi interview, saya lebih sering menanyakan pertanyaan-pertanyaan di luar teknis. Karena saya pikir, saya gak perlu mengulang sesi yang sudah dilakukan User dan HR. Biasanya saya akan menanyakan sesuatu seputar aktifitas sehari-hari, keluarga, hobi dan minat si kandidat–walau sesekali tetap saya selipkan pertanyaan yang lebih serius hanya untuk meyakinkan seberapa jauh level kemampuan berbahasa Inggris para kandidat.

Dari entah berapa puluh atau ratus sesi interview yang saya lalui, ada satu hal yang menggelitik pikiran saya. Bahwa kebanyakan interviewee, yang 80%-nya adalah fresh graduates, selalu bingung, ragu atau asal jawab setiap ditanyai hobi atau minat. Pertanyaannya mungkin memang sangat ringan, tetapi jangan salah, jawabannya bisa menjadi semacam identitas bagi si kandidat.

Biasanya kalau gak bingung atau ragu, standarnya kebanyakan menjawab membaca buku, menonton film atau travelling sebagai hobi. Sampai situ sudah lumayan lah daripada gak jawab atau jawab gak tahu atau gak punya hobi (Yes, it really happened.). Tapi, begitu saya gali lagi, tentang buku apa yang suka dibaca atau penulis favorit; film genre apa yang paling disuka atau judul film favorit; atau destinasi favorit apa, jawabannya mostly wajah-wajah bingung atau jawaban mentok yang mikirnya bisa bikin ruang interview hening beberapa saat. *Sad*

Saya gak bermaksud mengecilkan mereka yang kebingungan kalau ditanya hobi. Gak mungkin juga saya mengecilkan lulusan-lulusan universitas negeri nomor satu dengan IPK 3 koma ke atas. Ya, 75% pelamar biasanya lulusan universitas terkemuka. Tapi ya itu, bagi saya punya hobi itu penting.

Menurut dictionary.com, definisi hobi sendiri adalah suatu kegiatan atau minat yang dikejar/dilakukan untuk kesenangan dan relaksasi, dan bukan merupakan pekerjaan utama. Walau, ya, kenyataannya banyak orang yang menjadikan hobinya sebagai profesi. How lucky they are!

Bonnie Crater, CEO dari Full Circle Insights, menyatakan dalam interviewnya bersama Business Insider, bahwa ia tidak akan mempekerjakan kandidat yang tidak punya hobi.

They all must have a hobby they invest time in.

Yes, segitu pentingnya. Karena ternyata punya hobi atau punya aktifitas yang sangat disukai itu secara gak langsung bisa membantu seseorang untuk stay happy dan produktif. Setiap orang yang punya hobi itu paling gak punya cara untuk melepas penat dan stress. Mereka tahu mau melakukan apa di akhir pekan untuk membuang segala kesuntukan dan kembali ke kantor dengan pikiran yang lebih jernih.

I’ve learned that we are all much better and more productive at our jobs when we have a release outside of work.

Kalau keuntungan dari segi interview pekerjaan, sebagai interviewer saya pasti akan lebih mengingat pelamar-pelamar yang memiliki hobi dan mengerti apa yang dia sampaikan tentang hobinya (bukan asal jawab atau asal tulis di CV). Bahkan seiring saya menulis post ini muncul beberapa wajah para kandidat yang sesi interview-nya mengesankan saya terlepas diterima atau tidaknya mereka di kantor saya. Hobi mereka gak wah kok, ada yang sesederhana membaca buku. Tapi, saya tahu bahwa ia benar-benar suka membaca dari caranya mendeskripsikan satu buku dan satu penulis luar yang ia sukai. Matanya berbinar. Bukan seperti jawaban ala kadarnya yang berakhir hening tadi. Ada juga yang punya hobi sesederhana main musik, lalu ia bercerita tentang bandnya dan musik yang ia garap dengan bandnya. Ada yang sangat senang terlibat dalam acara-acara sosial. Ada yang suka melukis, main bola, berkebun, dan beberapa lainnya.

See, hobi gak harus muluk-muluk kok. Yang terpenting adalah kita tahu apa yang kita suka dan tahu bagaimana melepas penat. Bahkan di kehidupan sehari-hari saya pun, saya rasa orang-orang dengan minat yang kuat akan sesuatu biasanya lebih menarik. Buat saya, mereka punya identitas.

Saya pernah mendiskusikan ini dengan rekan saya yang memang orang HR, bahwa mungkin fenomena ‘tidak punya hobi’ ini salah satu efek domino dari era gadget dan social media saat ini. Di mana generasi-generasi muda saat ini mulai bias tentang apa yang mereka senang lakukan. Karena scrolling up and down di layar hp lah yang mereka tahu sebagai aktifitas yang mereka sukai dan mendominasi waktu santai mereka. I personally assume that ‘socmed-ing’ is a really counterproductive activity. Karena sering kali memang selalu menjadi distraction number wahid. Di mana saya harusnya sedang menulis, atau sedang menggambar, gak kerasa sudah berjam-jam tenggelam dalam arus timeline social media yang gak ada habisnya. Haha, di sini saya nyatakan saya dirugikan. Haha.

Well, long story short,  answer this. What hobby is important to you?

If you don’t have any idea to answer this and to explain it, better try to find one and make yourself more interesting. 😉

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s