Cerpen: Dimana eling?

Illustration by Dila

Tiada yang dapat menandingi rasa ketika membuka mata di pagi hari dan kau tahu kalau kau amat bahagia. Hening tidak pernah mengetahui kalau harinya akan dilaluinya dengan penuh kejanggalan. Yang ia tahu, ia selalu merasa bahagia setiap membuka mata di pagi hari.

Ia tersenyum menatap langit-langit kamarnya. Langit-langit itu berwarna putih gading dan dibingkai oleh ukiran sewarna yang terbuat dari gypsum. Di tengah-tengahnya, tergantung lampion coklat muda dengan lukisan burung cendrawasih. Lampion itu pilihannya ketika ia dan suaminya Eling membeli perabotan rumah beberapa saat setelah mereka menikah. Hening merasa lampion itu agak cepat usang. Ia yakin belum lama membelinya di pasar barang antik, dan sekarang sudah tampak kusam.

Perlahan, Hening mencoba bangkit. Ia merasakan pegal dan kaku di sekujur tubuhnya. Sambil mencoba meregangkan tubuhnya, ia menoleh ke sisi tempat tidur lainnya, di mana Eling selalu terbaring. Tetapi, pagi ini suaminya itu sudah beranjak sebelum Hening membangunkannya.

Kemudian matanya menyusuri dinding kamar mencari jam yang seharusnya terpasang di hadapannya. Dan, mendapatkannya terpasang di sisi lain kamar. Keningnya berkerut. Ia tidak tahu mengapa Eling memindahkan jam dinding itu.

Hening menduga suaminya saat ini sedang asik dengan mobil kodok kesayangannya. Hening tersenyum. Mobil kodok itu yang pernah menjodohkan mereka. Dulu, bapaknya punya mobil kodok dengan warna merah yang hampir sama dengan warna mobil Eling. Hanya karena perkara salah masuk mobil ketika menunggu bapaknya lah akhirnya mereka saling mengenal.

Hening tersenyum mengenang masa itu. Ketika ia menyadari kalau bukan bapaknya yang duduk di bangku supir, melainkan seorang pemuda di pertengahan 20-annya. Mereka berdua tertawa dan berakhir berkenalan.

Pemuda itu mengaku bernama Eling. Di awal perkenalannya, Eling sudah menceritakan kisah di balik namanya. Katanya, ibunya yang memilihkan nama unik itu untuknya. Eling, supaya ia selalu menjadi manusia eling di sepanjang hidupnya.

Hening menghela nafasnya dalam-dalam sampai merasa paru-parunya penuh. Sebelum berhasil menghembuskannya, ia merasa dadanya terasa perih dan sesak. Nafasnya sempat tersengal akibat tertahan. Ia pejamkan matanya sampai rasa perih itu mereda. Kemudian membukanya di saat yang sama ia merasa ada lagi yang berbeda dari ruangan ini selain jam dinding itu.

Lukisan pohon Tabebuia kesayangan Eling sudah tidak ada di tempat seharusnya. Matanya kembali menyusuri seluruh sisi kamar, namun kali ini tidak menemukan apa yang dicarinya. Raut wajahnya berkerut tampak bingung. Yang ia tahu baru minggu lalu suaminya itu memasangnya setelah membeli dari seorang kawan lama.

Sementara kepalanya masih sibuk memikirkan lukisan itu, ia memutuskan untuk beranjak dan menyusul Eling ke garasi. Bukannya berhasil berdiri, ia malah terjatuh duduk kembali.

“Eling!” Hening mencoba memanggil. Ia berdeham sambil memegangi tenggorokannya. Suaranya amat serak. Ia bahkan tidak mengenali suaranya sendiri.

Ia lalu melirik meja kecil di mana ia biasa meletakan gelas minumnya. Namun nihil. Tidak ada gelas. Yang ada malah beberapa kantong obat-obatan. Ia meraih salah satunya. Aricept. Dipicingkan matanya. Ia mencoba mengingat, namun berakhir dengan tak acuhnya hanya mengembalikan obat tersebut ke kantongnya lagi.

Kemudian ia kembali memanggil Eling dan mencoba berdiri kembali. Di saat bersamaan, ia mendengar langkah kaki mendekat dari luar kamar. Dan, pintu kamarnya segera terbuka.

Hal 1 dari 3 halaman

Selanjutnya>>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s