Cause Everyone Is A Reader

image

Neil Gaiman pernah menyatakan:

“Baca. Baca semuanya. Baca apa yang kata orang bagus, dan apa yang kata orang sampah. Kau akan menemukan apa yang kau cari. Intinya, baca.”

Apa yang disampaikan penulis asal Inggris tersebut kurang lebih senada dengan apa yang tersirat pada gambar di atas. Bahwa untuk menyukai membaca, kita cuma perlu memilih buku yang kita sukai. Gak harus buku klasik. Gak harus buku-buku yang memenangkan award bergengsi. Gak melulu harus buku-buku dengan pesan moral. Pokoknya, pilih mana pun yang mengundang rasa penasaran atau menarik perhatian kita, bahkan ketika orang menilai buku tersebut ‘sampah’. Wong ‘sampah-sampah’ juga kalau bisa bikin mulai mau baca, bagaimana dong? Bayangkan kalau orang yang awalnya gak suka baca, terus supaya suka baca langsung ‘dijejelin’ buku-buku ‘berat’ tadi. Trust me, they will even turn off with any kind of reading materials. Dan, menurut Neil Gaiman juga di salah satu tulisannya (I forgot where), hal tersebut juga berlaku untuk memperkenalkan budaya membaca kepada anak-anak.

“Terus, lo kenapa baca klasik melulu, Dil?” It’s not that I never read other lighter books, darlene. I admit I read anything. Jujur, yang memperkenalkan saya dengan buku-buku klasik pun sebenarnya jurusan kuliah. Berawal dari tugas demi tugas baca, berakhir jadi nyandu sendiri. I call it the perks of being an English literature graduate. (Tapi gak berarti juga semua anak sastra suka baca buku klasik lho, banyak juga kok dulu yang milih nyari summary di internet dari pada selesain tugas bacanya, Lol). Kalau saya kebetulan, sampai sekarang masih suka bersyukur dulu memilih jurusan kuliah yang klik sama diri saya dan menjadi penjembatan ke hobi saya untuk karya-karya klasik tersebut. Sumpe deh bukan gaya-gayaan juga. Lol. That is just how I enjoy reading, in the end. Dan, alasan saya lebih suka baca buku dengan bahasa asli juga boleh dimasukin ke one of “the perks” tadi.

Sedikit cerita, buku klasik berbahasa Inggris pertama yang saya baca itu “Love in the Time of Cholera”-nya Gabriel Garcia Marquez. Masih ingat, dulu saya baca novel tersebut  sampai makan waktu sebulan-an (cukup lama untuk mahasiswa baru yang gak banyak kegiatan selain nongkrong di kantin) dan itu habis-habisan cuma demi ngejar deadline sampai kebagian giliran presentasi. Sampai lama-lama satu per satu buku klasik (ditugaskan) dibaca, dari Harper Lee’s, Michael Crichton’s sampai Nathaniel Hawthorne’s. Tanpa disadari tau-tau jadi terasa jauh lebih ‘ringan’. Gak pernah mengira juga kalau in the end buku klasik jadi kayak makanan sehari-hari yang semakin gak terasa berat lagi. Yak betul, semua juga dimulai dari terseok-seok kok baca buku ‘berat’. Syukur-syukur dulu saya gak trauma dengan buku klasik. Lol.

Jadi, gak usah terintimidasi dengan orang-orang di sekitar yang bacaannya lebih berat. Percaya deh, mereka punya ceritanya masing-masing untuk mulai terbiasa. Dan, gak ada kata terlambat kok untuk mulai suka membaca. Bisa dimulai dengan bacaan yang menurut kita bisa bikin happy. If a chick lit makes you happy, go on read it. A fantasy? Read it. Harlequin? Read it. Mystery? Detective series? Whatever, go on read it. Intinya, mulai baca. Buku pertama yang saya baca dulu (yang bukan majalah atau komik), kalau gak salah ingat, dimulai dari RL Stine’s Goosebumps series pas SD, berlanjut ke masa SMP di saat mulai random milih buku sendiri, dari seri awal Harry Potter, seri Chicken Soup sampai novel terjemahan semacam “Dracula”-nya Bram Stoker. Haha, that random. Just to kill my curiosity as a teenager.

Jadi, IMHO, seseorang bisa sampai pada level bacaan kelas berat juga berawal dari membaca materi ringan yang dirasa disukainya dan bisa membuatnya bahagia. Karena, ketika membaca sudah menjadi rutinitas dan hobi, tanpa disadari level bacaan tersebut akan terus menanjak seiring dengan perjalanan ‘spiritual’-nya dengan buku dari waktu ke waktu. Tapi, bukan berarti juga ketika level bacaan seseorang sudah cukup tinggi, ia lalu tidak bisa menurunkan level untuk membaca buku-buku ringan lagi. Ada juga sih, yang setelah kenal buku-buku berat, jadi malas baca buku-buku popular atau yang lebih ringan. Kalau saya pribadi, kurang setuju dengan pengkotak-kotakan selera membaca tersebut. Boleh lah tidak menyukai genre tertentu, tapi kalau bisa jangan jadi anti dengan genre yang (dirasa) kurang sreg sampai menutup mata untuk buku apa pun yang berkaitan dengan genre tersebut.  Trust me, you’ll surprise yourself when you stop avoiding it. Kayaknya juga saya gak pernah merasa gak mendapatkan apa-apa dari buku yang saya baca deh, sekalipun buku tersebut akhirnya kurang saya sukai (even when I stop reading it before the end of the book)You know what, in the end it will keep your brain working by wondering and will make you crave more and more of other better ones that might fit you. And sure, it keeps you reading. 😉

“The more you read, the more things you know. The more that you learn, the more places you’ll go.” -Dr. Seuss

Jadi, membaca buku itu seperti jalan-jalan atau traveling ke tempat-tempat baru, banyak kemungkinan menunggu di depan sana, bisa pengalaman menyenangkan, menyedihkan, mengejutkan atau bahkan memuakkan. Dan yak, membuka jendela ke dunia yang bahkan kita pun tidak pernah menyangka adanya. Intinya baca. W-h-a-t-e-v-e-r books that appeal to you. Klasik, atau modern. Sastra lama, atau kontemporer. Fantasi, atau drama realita. Reliji atau ilmiah. Whatever it is, fiksi atau non-fiksi. Pokoknya baca.

Oh, and one thing about fiction, pernah baca postingan seseorang yang menganggap baca fiksi itu buang-buang waktu, mengkhayal sana sini gak karuan, katanya mending baca buku non-fiksi yang bisa diaplikasikan di kehidupan sehari-hari atau biografi orang hebat yang menginspirasi. Hehe.. Guys, tau gak sih kalau membaca fiksi (terutama katanya sih literature fiction) bisa mengembangkan kemampuan kognitif seseorang dan mempertajam kemampuan menulisnya? Kalau membaca fiksi bisa meningkatkan daya imajinasi dan kreatifitas seseorang? Bisa meningkatkan emotional intelligence dan social perception? Bahkan, menurut survey, membaca literatur fiksi juga bisa meningkatkan rasa empati kita terhadap kondisi orang lain? Iya, segitunya. Dan, satu lagi, pernah dengar istilah biblioterapi? Ya, ada yang namanya reading teraphy, di mana terapi ini dilakukan untuk menyembuhkan masalah yang menyangkut dengan emosi seperti depresi. Lebih lengkapnya, mungkin kapan-kapan saya tulis di sini lagi tentang biblioterapi ini, beserta kebaikan-kebaikan yang ditawarkan lewat membaca karya fiksi. Which I meantersay (red: nah I got this term from reading Dickens’ Great Expectations), never estimate any kind of reading materials, for it will always bring you somewhere, to the higher level, as it gives you,  surprisingly, more and more knowledge.

Mari budayakan membaca. Tularkan dan turunkan budaya ini ke orang-orang di sekitar dan generasi selanjutnya. Buat yang sempat berpikir ‘kayaknya gue gak suka baca deh’, kenapa gak mulai coba lagi? There is this saying, that everyone is (basically) a reader, some just haven’t found their favorite books. So, keep searching. 😉

Happy international literacy month!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s