Bicara soal Tigapagi dan Roekmana-nya

Suatu siang yang menjemukan di tahun 2014 lalu, ditambah playlist yang mulai membosankan karena sudah lama tidak diperbarui, tiba-tiba pikiran ini membawa saya pada satu band indie dari Kota Kembang yang pernah meninggalkan kesan mendalam di hati saya sejak tujuh tahun yang lalu. Namanya Tigapagi.

Sedikit cerita, Tigapagi ini merupakan sebuah grup musik yang terdiri dari tiga pemuda Bandung yang lihai bermain gitar akustik dengan  pentatonik Sunda. Sebut saja mereka, Sigit Agung Pramudita, Eko Sakti Oktavianto, dan Prima Dian Febrianto. Saya pertama kali mengenal mereka ketika mereka menjadi salah satu finalis ajang pencarian bakat di dunia musik indie, yaitu LA Light Indiefest, tahun 2008. Karena kebetulan band teman dekat saya saat itu juga masuk menjadi finalis, saya mengikuti perjalanan ajang tersebut sejak babak audisi. Dari kesemua band yang berhasil masuk album kompilasi, yang paling saya suka adalah Cascade dan Tigapagi. Namun, cuma Tigapagi yang berhasil memberikan kesan mendalam bagi saya. Saya menyimpan koleksi lagu mereka (di luar EP Half Awake on Twilight) yang saya pun lupa dari mana saya mendapatkannya. Yang jelas, sejak tahun tersebut, ketujuh lagu mereka selalu ikut saya kemana-mana, berapa kali pun saya berganti laptop (termasuk laptop kantor). Semacam folder wajib selain 13 album the Beatles, 6 album Led Zeppelin, 3 album Tame Impala dan “Animal” dan “Piper at the Gate of Dawn”-nya Pink Floyd. Anggap saja ini privilege tertinggi saya untuk mereka. 🙂

Kembali ke siang menjemukan itu, akhirnya saya mendengarkan ulang ketujuh lagu Tigapagi tersebut. Satu-satunya koleksi Tigapagi yang saya punya. Akhirnya, tergelitik penasaran tentang kabar mereka selama bertahun saya berhenti “eksis” di dunia per-gigs-an, saya tanyakan kabar mereka pada Google yang akhirnya membawa saya pada Twitter mereka yang ternyata aktif. Entah, seperti seseorang yang tidak bisa move on dan bertemu mantannya kembali, hati saya membuncah senang. Mereka masih eksis! Dan, baru tahun 2013 lalu merilis full album perdana mereka: Roekmana’s Repertoire.

1420075013423

Tanpa ba bi bu, segera saya beli album tersebut. Besar harapan kalau saya akan sangat menyukai album ini sebagaimana saya menyukai satu-satunya koleksi track Tigapagi di folder laptop saya. Begitu Roekmana’s Repertoire sampai di tangan, saya tidak terlalu terkejut dengan packagingnya yang lumayan rumit dan terkonsep karena sudah colongan baca review di sana sini sebelum membelinya. Dan, banyak yang sudah menyebut tentang packagingnya ini. Untuk itu juga, saya tidak akan berbicara banyak tentang packagingnya di sini. Sedikit saja, atas nama kemudahan dan jika bisa memilih, mungkin saya lebih suka jika packagingnya dibuat lebih sederhana, supaya lebih mudah ketika mengambil dan menaruh kembali keping cd-nya saat ingin memutarnya di dalam mobil tanpa takut-takut merusak/merobek kotak cd-nya atau menghilangkan salah satu konten dari dalam album. Ya, karena album ini pasti akan menjadi kesayangan saya dan akan dijaga supaya kelak bisa dilihat dalam keadaan utuh juga oleh anak-anak saya di masa depan.

Juga dengan track-nya yang cuma satu dan berdurasi sepanjang satu jam lebih, saya sudah tahu dari banyak review (begini memang kalau beli album jauh dari tanggal rilisnya), jadi tidak terkejut. Juga, album satu track (conceptual album) bukan lah merupakan hal baru bagi saya sejak mendengarkan, salah satunya, “The Dark Side of the Moon” milik Pink Floyd. Jadi, mendengarkan Roekmana’s Repertoire bukan lah hal yang sulit, terutama karena materinya pun sudah familier di telinga saya. By the way, ini album band lokal pertama yang saya dengar dalam konsep seperti ini. Nice, pikir saya.

Bagian yang tidak begitu mudah bagi saya untuk mendengarkan Roekmana’s Repertoire justru adalah membiasakan kalau banyak musisi lain yang terlibat di album ini. Karena memang awalnya saya yang sedang rindu kepada Tigapagi ini inginnya “ditinggalkan” hanya “berdua” dengannya. Bukan karena saya tidak menyukai musisi-musisi yang terlibat. Bagaimana bisa, saya juga penggemar Efek Rumah Kaca dan Sore lho, pastinya saya senang dong dengan hadirnya Cholil Mahmud dan Ade Paloh. Hanya saja saya memang perlu terbiasa. Namun, itu tidak lama. Hanya butuh dua sampai tiga kali putaran berturut-turut saja bagi saya untuk terbiasa dan menerima kalau di album ini “yang lain” memang harus terlibat demi kepaduan dan keharmonisan Roekmana’s Repertoire. Sebagaimana Roekmana’s Repertoire memang seharusnya.

Setelah akhirnya sugesti pikiran saya menerima sebagaimana album ini seharusnya tadi, akhirnya dengan jernih saya bisa menilai Roekmana’s Repertoire. Baiklah, mari kita mulai di halaman selanjutnya.

Halaman 1 dari 2

Advertisements

5 thoughts on “Bicara soal Tigapagi dan Roekmana-nya

  1. Aku lagi nyari tulisan tentang Tigapagi dan menemukan blog ini. Lalu tiba-tiba jadi enggan beranjak. Tulisan-tulisanmu keren mbak… Apalagi baca cerpen Alang-Alang.. Ko aku ngerasa pilu dan sendu banget ya, hahaha.. Salam kenal ya mbak 🙂

  2. Kakaaaaaa, Aku jadi penasaran deh lagu Erika versi sigitnya. Aku nyari dan susahh. Boleh tau link untuk download Erika versi sigit? Terima kasih kaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s