The Nuclear Winter, Anna Wintour

vogue
Gaya rambut khasnya dan kacamata hitamnya membuat dirinya mudah diingat dan tak terlupakan, seperti juga tersirat dalam “The Devil Wears Prada”. Ia memiliki daya tarik yang besar untuk melambungkan nama-nama perancang busana baru. Sisi perfeksionis dirinya membuatnya dijuluki “Nuclear Winter”. 

Namanya Anna Wintour. Ia adalah putri dari pasangan Charles Wintour, mantan editor “The Evening Standard” dan Elinor Baker. Lahir pada 3 November 1949 di London, Inggris. Ia pernah menikah dengan David Schaffer dan memiliki dua anak darinya. Mereka bercerai pada 2001. Kemudian, tiga tahun kemudian ia menikah lagi dengan seorang investor kaya bernama J. Shelby Bryan.

Bicara tentang perjalanan karier dan latar belakang pendidikannya di bidang fashion, Anna sempat mengemban pendidikan di “North London Collegiate School”, namun ia tidak meneruskan pendidikannya di sana. Pada 1970, ia mulai bekerja untuk majalah fashion di London, dan sukses menjadi editor majalah “Vogue” Inggris pada 1986 dan ”House & Garden” pada 1987. Di tangannya, kedua majalah tersebut berhasil meroket.

Setelah dua tahun bekerja sebagai editor “Vogue” Inggris, Wintour ditunjuk untuk menjadi editor-inchief majalah “Vogue” edisi Amerika.  Posisi ini lah yang menjadikan dirinya sebagai icon di industri fashion. Sebelumnya oleh Grace Mirabella, pendahulu Wintour di Vogue, majalah tersebut lebih fokus membahas rubrik lifestyle ketimbang fashion, dan ini sempat menjadi kekhawatiran sejumlah tokoh industri fashion. Mereka khawatir majalah “Vogue” akan kehilangan tempatnya di dunia fashion. Namun, dibawah kepemimpinan Wintour, majalah “Vogue” kembali meraih status muasalnya sebagai majalah fashion dengan berhasil mempertahankan fokus mereka dalam dunia fashion.

Wintour menjadi “pegangan” para perancang busana untuk melambungkan nama mereka. Sarannya sangat didengar oleh para perancang busana tersebut. Ia bekerja untuk memayungi para perancang busana muda yang namanya belum terkenal. Ia membantu mereka dengan memulai pendanaan “CFDA/Vogue” untuk membantu dan mendukung para perancang busana yang belum terkenal tersebut.

Paska tragedi 11 September 2001, ia mengadakan penjualan kaos-kaos yang keuntungannya disumbangkan ke pendanaan Twin Towers.Ia juga berkontribusi dalam kampanye public relations  untuk mendapatkan kepercayaan publik lagi untuk berbelanja setelah serangan 11 September itu.

Wintour juga terkenal akan kedermawanannya. Ia merupakan wakil dari “Metropolitan Museum of Art”. Ia juga merupakan penanam modal utama untuk berbagai acara amal untuk program AIDS. Ia juga telah membuat tema sosial menjadi prioritas utama misi majalah “Vogue”.

Setelah tragedi penyerangan ke Afghanistan, “Vogue” membuka salon kecantikan dan mengajari wanita Afghanistan menambah skill mereka dalam bidang kecantikan. Kegiatan tersebut benar-benar membukakan peluang dan dunia baru bagi para wanita ini. 

Anna Wintour merupakan “target operasi” bagi organisasi-organisasi yang membela hak-hak hewan seperti PETA (People for the Ethical Treatment of Animals). Bukan rahasia lagi bahwa ia begitu menyukai bulu hewan, dan sering menampilkan gambarnya dengan bulu-bulu hewan dalam perluasan fashion majalah “Vogue”. Organisasi-organisasi tersebut sering kali menyerangnya di sejumlah acara. Katanya, bahkan ia telah lupa seberapa sering.  PETA juga dibuat geram atas penolakan Wintour untuk mengijinkan mereka mengisi space iklan di majalah tersebut.

Aturan hidupnya telah dianggap ‘legendary’ bagi orang-orang di dunia fashion. Setiap hari ia bangun pukul 5.45 pagi untuk bermain tennis. Kemudian ia didandani secara professional, dan disupiri ke kantor “Vogue” Amerika. Ia juga terkenal sebagai the most active party doers di kota New York. Akan tetapi, ia selalu menolak untuk berada di sebuah pesta lebih dari sepuluh menit pertama, karena ia lebih memilih tidur tepat pukul 10 malam.

Anna Wintour dikenal sebagai orang yang kasar dan sulit untuk diajak kerjasama, bahkan sering dianggap memanfaatkan pengaruh dan kekuasaannya. Pada 2003, Lauren Weisberger, mantan asisten Wintour, menerbitkan buku berjudul “The Devil Wears Prada”. Banyak yang berasumsi kalau buku itu tentang Wintour, tetapi Weisberger selalu membantah, dan menyatakan bahwa buku tersebut hanyalah fiksi semata.

 

Artikel ini ditulis ulang setelah diterjemahkan sebagai kontribusi untuk final project seorang teman di tahun 2010. Sebelumnya pernah dipost di blogzine pribadi saya. Disunting kembali di tahun 2014.

 

 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s