Suu Kyi, Sang Pro Demokrasi

Manusia di seluruh dunia memerlukan kebebasan dan keamanan untuk dapat melihat potensinya.” –Aung Sang Suu Kyi

Mungkin tidak banyak orang yang mengenal dirinya, namun sosoknya patut dikenal oleh para wanita. Perjuangan melawan rezim Junta demi kemerdekaan Burma mungkin akan menjadi sebuah inspirasi bagi para wanita modern dan menjadi titik balik untuk membuat kita bersyukur hidup di negara yang demokratis.

Namanya Aung San Suu Kyi (Red: Ong San Soo Chee). Ia adalah seorang pemimpin pro-demokrasi Burma dan penerima Nobel Kedamaian, sebagai simbol perjuangan rakyat Burma untuk hidup bebas. Lahir pada 19 Juni 1945 dan merupakan keturunan dari pahlawan kemerdekaan Burma, Aung San, yang ditangkap sejak Suu Kyi berusia dua tahun.

Aung San Suu Kyi mengemban pendidikannya di Burma, India dan Inggris. Saat ia belajar di Oxford University, ia bertemu dengan Michael Aris, seorang terpelajar yang akhirnya ia nikahi pada 1972. Hasil dari pernikahan itu, mereka dianugrahi dua anak, yaitu Alexander dan Kim. Pada 27 Maret 1999, ketika Aung San Suu Kyi berada di Burma, Michael Aris meninggal karena kanker di London. Sebelumnya Michael Aris pernah mengajukan permohonan terhadap kebijakan Burma untuk mengijinkan dirinya menemui Suu Kyi untuk terakhir kalinya, akan tetapi pemerintah Burma menolak permintaan tersebut. Mereka terakhir bertemu pada 1995, dalam sebuah kunjungan Natal. Pemerintah Burma selalu mendorong Suu Kyi untuk kembali pada keluarganya di luar negri, namun ia tahu bahwa jika ia mengikuti dorongan mereka, ia tidak akan diijinkan untuk kembali.

Aung San Suu Kyi kembali ke Burma pada 1988 untuk merawat ibunya yang sekarat dan tidak lama dari situ ia mulai terjun langsung dalam perjuangan kebangkitan demokrasi bangsa dan negaranya. Suu Kyi banyak memberikan pidato tentang kebebasan dan demokrasi saat dirinya tergabung dalam National League for Democracy (NLD). Namun, rezim militer menanggapi kebangkitan tersebut dengan mengeluarkan pasukan yang tak berkeprimanusiaan yang membunuh sampai 5000 demonstran. Karena merasa kehilangan kekuasaan, rezim tersebut secara paksa mengadakan pemilihan umum pada 1990.

Saat Aung San Suu Kyi mulai mengkampanyekan NLD, ia dan banyak anggotanya ditawan oleh rezim. Walaupun dijadikan tahanan rumah, NLD memimpin dengan perolehan 82% kursi parlemen. Namun, rezim tersebut tidak mengakui hasil pemilu tersebut.

Sejak saat itu, Aung San Suu Kyi mulai sering keluar masuk tahanan. Ia dijadikan tahanan rumah pada 1989 – 1995, dan untuk kedua kalinya pada 2000 – 2002. Ia lagi-lagi ditangkap pada Mei 2003 setelah tragedi pembunuhan massal oleh militia rezim terhadap 100 pendukungnya. Aung San Suu Kyi tetap menjadi tahanan rumah di Rangoon. Jaringan komunikasi untuknya, yaitu telepon dan pos, diputus. Bahkan keamanan yang disediakan sukarelawan NLD untuknya dihapuskan pada Desember 2004.

Aung San Suu Kyi mendapatkan sejumlah penghargaan internasional, termasuk ke dalamnya “Nobel Peace Prize”, “the Sakharov Prize” dari parlemen Eropa dan “The States Presidential Medal of Freedom.” Ia menghimbau warga dunia untuk mendukung perjuangan atas kemerdekaan Burma dengan menyatakan “Mari gunakan kemerdekaanmu untuk memajukan kami.”

Seharusnya pada tahun 2009, masa tahanan Aung San Suu Kyi telah berakhir dan seharusnya ia dibebaskan. Namun lagi-lagi ia dinyatakan bersalah karena dianggap melanggar peraturan tahanan rumahnya untuk menemui seorang pria Amerika, John Yettaw, yang berenang sampai ke rumahnya dan menolak untuk pergi. Untuk itu, ia divonis perpanjangan 18 bulan tahanan rumah pada 11 Agustus 2009.

Akhirnya setelah menghabiskan 15 tahun dalam 21 tahun terakhir menjadi tahanan rumah, pada November 2010 lalu, Suu Kyi bebas dari status tahanan rumah dan dapat menghirup udara bebas kembali.

Sebagai seorang wanita, perjuangan dan pengorbanannya untuk bangsanya patut diangkati topi. Sungguh menginspirasi bagaimana ia mencintai bangsa negaranya bahkan sampai rela berada jauh dari suami dan anak-anaknya untuk bertahan di Burma memperjuangkan kemerdekaan yang dimimpikan rakyat Burma. “Terus berjuang lah, Suu kyi! Kemerdekaan Burma menantimu di ujung jalan!”

Artikel ini ditulis ulang setelah diterjemahkan sebagai kontribusi untuk final project seorang teman di tahun 2010. Sebelumnya pernah dipost di blogzine pribadi saya.

 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s