Akhir Khayal Noni

Kali ini, suatu hari ketika A S Laksana menantang saya menuliskan suatu cerita “tegang” tanpa menyebutkan kata “tegang” itu sendiri.

Gemetaran Noni membuka bungkusan berwarna merah muda yang bertuliskan “sensitif”. Setahun berlalu dan Ia tidak menyangka akhirnya akan melakukan hal ini. Butiran keringat bagaikan embun bermunculan di kening dan tengkuk lehernya. Dalam balutan seragam putih abu-abunya ia merasa dingin. Dingin yang membuatnya semakin tak nyaman. Matanya menelusuri barisan tulisan kecil di dalam kertas terpisah yang berisi petunjuk pemakaian, yang tak bisa diam seiring getaran tangannya.

Celupkan selama satu sampai dua menit di dalam air seni. Mulutnya terbuka tertutup tanpa suara membaca kalimat per kalimat. Di saat yang sama isi kepalanya berputar. Bagaimana ini kalau sampai Kak Arum tau. Bagaimana sekolahku kalau aku sampai…. Pertanyaan demi pertanyaan “bagaimana kalau” bermunculan di kepalanya berpacu dengan kecepatan degup jantungnya yang berdetak tidak karuan.

Ia menyingkirkan kertas petunjuk yang kini setengah lecek dan basah akibat keringat di telapak tangannya. Masih segar dalam ingatannya, saat pertama kali pria itu memulainya sementara ia tidak sanggup menahan godaan karena ia memang pernah membayangkan sebuah kecupan saat pertama kali bertemu pria yang memiliki paras elok dan tubuh tinggi tegap itu. Noni memang sudah jatuh cinta kepada pria itu sejak lama, sejak pria itu masih berstatus pacar Kak Arum, yang tidak lain adalah kakak sepupunya. Bahkan sampai pria itu akhirnya menikahi kakak sepupunya itu pun, ia masih tidak bisa melupakan hasratnya kepada pria itu.

Tiap malam ia membayangkan membaringkan kepalanya di dada yang bidang itu dan memeluknya sampai ketiduran. Alih-alih pagi harinya ia terbangun hanya memeluk guling dan saat keluar kamar menemukan pemandangan mesra saat pria itu mencium kakak sepupunya sebelum berangkat kerja. Sambil memejamkan mata, sering kali Noni membayangkan dirinya lah yang sedang mendapat kecupan.

Dua tahun ia lalui dalam mimpi dan khayalan, akhirnya kesempatan untuk mewujudkan obsesinya akan suami kakak sepupunya itu pun muncul. Hari itu adalah hari ketujuh kakak sepupunya berada di luar kota sementara ia tinggal di rumah hanya bersama pria itu dan dua orang pembantu yang selalu sibuk di dapur atau di kebun. Ketika segala khayalannya bersama pria itu terwujud. Noni lupa segalanya.

Terdiam sesaat, ia lalu menarik nafas dalam-dalam. Berusaha menguasai tangannya yang gemetaran, Noni mengarahkan strip tipis itu ke wadah yang sudah ia isi dengan air seninya. Bulir-bulir keringat bertambah banyak bermunculan di area wajahnya seolah ada yang salah dengan kelenjar keringatnya. Tangannya dingin sampai ia bisa merasakannya sendiri. Tenggorokannya terasa kering sehingga memaksanya menelan ludah berkali-kali.

Matanya tidak luput menatap gerakan dalam strip biru tersebut sementara bayangan wajah Kak Arum melekat terpatri di hadapan pelupuk matanya. Perlahan tetapi pasti, suatu cairan merangsek naik membentuk guratan warna merah. Hampir di saat bersamaam, Noni menutup mulutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s