Malin Ternyata …

Ketika A S Laksana menantang saya mengubah point of view dongeng Malin Kundang …

Ketika kapal mulai menepi, tiba-tiba sekelebat memori kembali muncul di kepalaku. Semoga istriku benar. Mungkin dengan datang ke kampung ini, kampung yang sering kali muncul dalam mimpiku, bisa mengembalikan ingatanku. Kemudian kami menuruni kapal dan langsung disambut puluhan penduduk yang seperti segerombolan semut yang mencium bau manis, seketika mengerumuninya. Penduduk di sini ternyata tidak jauh berbeda dengan penduduk-penduduk kampung lain yang selalu antusias menyambut kedatangan rombongan raja atau bangsawan.

Angin pantai yang berhembus lembut menerpa wajahku selagi aku dan rombongan berjalan memasuki kampung ini. Entah apa dan mengapa, ada perasaan familiar yang menerpaku. Tiba-tiba, kepalaku berdenyut dan memori itu… memori itu…

Dengan pakaianku yang penuh bercak darah, aku memangku seorang wanita tua. Dalam usianya yang usang, ia masih tampak ayu. Wanita itu tidak bergerak. Matanya terpejam damai. Aku menyentuh nadi di lehernya dan tidak ada denyut di sana. Aku menangis, lalu memeluknya.

Memori itu muncul kembali. Ia pasti ibuku. Entah mengapa aku begitu yakin. Bagaimana tidak? Jika wanita tua itu tidak berarti apa-apa, mana mungkin memori tentangnya sering kali muncul.

Di tengah kerumunan orang-orang yang berlomba menciumi tanganku, aku berusaha menahan rasa sakit, walau keringat dingin mulai bermunculan di kening dan tengkukku.

“Malin! Oh Malin!” Tiba-tiba di antara kerumunan orang-orang itu, aku mendengar suara seorang wanita memanggilku dengan suara seraknya.

Aku menoleh mencari-cari sumber suara itu.

“Malin! Malin, anakku!” Sesosok wanita tua renta dengan pakaian lusuh, wajah kusam, dan rambutnya yang penuh uban, menyeruak.

Aku dan istriku menatapnya heran. Siapa dia?

Ketika wanita itu berusaha menggapaiku, pengawalku dengan sigap maju menghalanginya.

“Siapa kau, wahai wanita tua?” Aku bertanya kepadanya berusaha sesopan yang kubisa, masih sambil menahan rasa sakit di kepalaku.

“Wahai, Malin! Sungguhkah engkau telah melupakan wajahku? Tidak ingatkah engkau pada diriku? Aku wanita yang melahirkanmu. Aku yang melepas kepergianmu lima tahun lalu. Tidak ingatkah engkau, Nak?”

Ibuku? Mengapa wanita tua ini mengaku-ngaku ibuku? Aku menatap tubuhnya yang kurus, kulitnya yang hitam, dan wajahnya yang jelek. Tidak mungkin ia ibuku. Ibuku pasti wanita yang selalu datang dalam mimpiku. Ibuku pasti wanita ayu yang memorinya sering kali muncul bersama rasa sakit di kepalaku. Rasa sakit yang aku rasakan sejak sekitar lima tahun lalu, saat aku terbangun di tengah kamar megah dan tidak mengingat apa pun, saat pertama kali melihat wajah cantik wanita yang sekarang adalah istriku. Ia yang menyelamatkanku dari kecelakaan yang terjadi lima tahun lalu. Tidak mungkin lima tahun lalu aku masih ada di kampung ini. Wanita ini mengada-ada.

“Benarkah apa yang dikatakan wanita tua ini, duhai suamiku? Apa kau telah mengingat sesuatu?” Sentuhan tangan istriku membangunkanku.

Semua mata tertuju padaku menanti jawabanku.

Aku segera menggelengkan kepalaku. “Tidak! Aku tidak mengingatnya! Ia berbohong!” Teriakku sambil memegangi kepalaku yang semakin lama sakitnya sudah tak bisa kutahan.

Tiba-tiba dengan cerobohnya wanita tua itu menerjang pengawalku, menjatuhkan dirinya untuk memeluk kakiku.

Denyut di kepalaku semakit hebat menerpa. Secara spontan, kakiku bergerak membuat tubuh renta itu terlempar ke belakang.

Semua orang terperanjat. Ada yang menahan nafas. Ada yang matanya terbelalak. Entah mengapa, ada rasa penyesalan yang dengan secepat kilat menusuk batinku. Tidak, aku tidak peduli. Wanita itu gila. Kali ini rasa sakit di kepalaku sudah tak tertahankan lagi. Aku meminta istri beserta rombonganku untuk kembali ke kapal.

Sebelum berbalik, aku masih sempat melihat wanita tua itu menangis dalam posisi tersungkur. Ia masih menyebut-nyebut namaku. “Malin… Malin… Mengapaaa?”

Dibantu pengawal dan istriku, aku membalikkan badanku dan bersegera meninggalkan pemandangan menyedihkan wanita tua itu dan orang-orang yang satu per satu mulai bersuara, berbicara pada satu sama lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s